Monday, April 23, 2018

CITAYAM... DAN SENANDUNG MIRIS SANG BOCAH

Di penghujung sore... di tengah sisa gerimis... terdengar suara bocah perempuan bersenandung riang di luar

Suara imutnya tidak menarik perhatianku.. senandung liriknya yang justru menghasilkan tarikan miris di sudut bibir keringku yang seharian tak tersentuh air mineral botolan dengan label ternama di Indonesia...

Dari balik jendela kusam yang penuh jamur yang sulit lenyap di usap oleh cairan pembersih 20 ribuan, aku menyibakkan tirai hitam tebal senilai 300 ribu yang berasal dari kain potong seukuran 3 meteran yang saat pertama ku beli diharapkan kelak menjadi gaun panjang nan indah, demi melihat sosok yang sudah terlebih dulu terbentuk wujudnya dalam imajinasiku yang kerap berisik!

Disana... didepan sebuah rumah yang harusnya menjadi rumah mewah kelas kota besar namun tak pernah usai dibangun, bocah kecil berumur sekitar 4 tahunan dengan rambut ala dora the explorer menggengam permen lolipop ditangan kiri dan batu kali seukuran telapak tangannya di tangan kanan-entah untuk apa- yang mana sesekali mengusap pipinya yang mungkin gatal tertusuk ujung-ujung rambutnya... sambil terus bersenandung dengan irama dan lirik yang sama berulang-ulang... entah siapa pencipta senandung yang terdengar miris di telingaku yang lama tak tersentuh anting berbahan emas, perak, ataupun kawat yang dibentuk menjadi anting yang disebut lucu oleh gerombolan ABG kekinian dengan nada histeris di toko-toko pernak-pernik import seharga 10 ribuan...

"Itu bocah napa yak? Apa besok mati yak?"

Senandung aneh dan miris yang dinyanyikan berulang-ulang tanpa beban akan makna liriknya dari mulut bocah bergaun warna warni dengan motif yang tak nampak jelas oleh mata silinder-plus milikku yang makin jengah untuk berkacamata...

"Itu bocah napa yak? Apa besok mati yak?"

Kembali ku tutup tirai yang tidak pantas disebut tirai hingga ruangan sempit berukuran 3x5 meter ini kembali meredup tanpa cahaya lampu bohlam putih akibat listrik yang padam untuk kedua kalinya dalam 1 hari yang sama...

"Itu bocah napa yak? Apa besok mati yak?"

Apa lagu ayu ting ting sudah tidak memikat telinga lagi disini sehingga dia memilih bernyanyi sebuah lagu yang akan sangat sulit di telusuri jejak penciptanya?

"Itu bocah napa yak? Apa besok mati yak?"

Terekam kuat dan mulai memberi efek suram dalam otak hingga menciptakan ilusi bagaikan lagu yang dinyanyikan kelompok kecil hantu anak-anak berwajah penuh darah dan mata putih rusak dalam film horor Indonesia dengan iringan piano bernada kacau...

"Itu bocah napa yak? Apa besok mati yak?"

Citayam... dan senandung miris sang bocah... jadi kisah baru yang unik dalam catatan perjalananku...

- Desi -
Citayam, 22 April 2017

#KisahCitayam
#Citayam
#Catatanku

Tuesday, April 3, 2018

Maka Aku Milikmu...

Ragaku... kau punya
Jiwaku... kau genggam
Hatiku... kau rekat
Cintaku... kau pikat

Gelak bahagia saat kau hadirkan tawa
Geram amarah saat kau tersentuh durjana

Jangan hujam aku dengan curiga
Kelak itu mampu memberengus asa
Jangan tikam aku dengan cemburu
Kelak itu membakar hingga kelabu

Cukup punyai ragaku
Cukup genggam jiwaku
Cukup rekatkan hatiku
Cukup pikat cintaku

Maka aku milikmu...

- Desi -

April 3rd 2018 - 20.17

Wednesday, March 28, 2018

Nak....

Nak...

Hati ini perih melihatmu terluka
Hati ini terbakar melihatmu meneteskan air mata
Hati ini pecah melihatmu menutup diri dan jiwa

Maafkan unda yang tak mampu memberi tawa
Maafkan unda yang tak mampu menghadiahkan bahagia
Maafkan unda yang tak mampu membawa suka cita

Takdir ini rasanya begitu cepat
Menampar raga dengan dahsyat
Merenggut riang bagaikan kilat
Menghujam kasih yang hilang iktikad

Nak...

Unda tak akan pernah memintamu untuk mengerti
Unda tak akan pernah memaksamu untuk memaklumi

Unda hanya akan selalu meminta cintamu
Unda hanya akan selalu berharap kasihmu
Unda hanya akan menunggu rindumu

Nak...

Tubuhmu adalah bagian diriku
Darahmu adalah aliran sayangku
Jantungmu adalah nafas hidupku

Nak...

Maafkan unda...

- Catatan Desi / 28 Maret 2018 -

Friday, January 19, 2018

Sepi Itu....

Sepi itu...
Bukanlah saat tak ada keramaian dalam rumah
Namun saat menyadari tak kan ada lagi yang dinanti untuk meramaikan isi rumah

Sepi itu...
Bukanlah saat tak ada kawan-kawan menemani berbincang-bincang...
Namun saat menyadari tak kan ada lagi tempat berbagi cerita

Sepi itu...
Bukanlah saat sendiri...
Namun saat hati tak lagi bisa terisi...

== Desi ==

Friday, January 12, 2018

Dalam Sepi...

Dalam sepi...
Aku tak lagi mendengar gemuruh di langit kelabu
Aku tak lagi mendengar rintik hujan tertiup angin
Aku tak lagi mendengar gemerisik daun-daun kering yang jatuh di atas rumput liar
Aku tak lagi mendengar celoteh jangkrik di malam pekat

Sepi itu...
Kini menulikan pendengaran hatiku...

Tuhan...
Aku rindu riuh
Aku rindu bising
Aku rindu ramai
Aku rindu gejolak

Namun yang kudengar dalam sepi
Kini hanyalah doa terpanjat
Dan isak tangis yang mencekat

- Desi -

**Jauari 12 / 00.04

Wednesday, January 3, 2018

INGAT ALLAH...

Terkadang dalam hidup kita merasa paling sial, paling sengsara, paling merana, hina, terpuruk, dan menyedihkan...
.
Terkadang dalam hidup kita merasa gak punya kawan, gak dihargai, gak di mengerti, atau gak di dengarkan...
.
Lalu mulai menyalahkan yang ada disekitar kita....
Tetangga lewat pake mobil baru kita bilang pamer
Teman pasang status FB sindiran langsung disangka untuk kita
Sahabat gak angkat telepon atau menjawab di whatsapp pun dituduh menjauhi kita
Orang berbuat baik ke kita pun cepat-cepat disangka menjilat dan pencitraan
Ini salah...
Itu salah...
Semua disalahkan...
.
Hati kita makin gelap, terpuruk, dan sempit..
.
Dan akhirnya yang kita ingat adalah keburukan dan keburukan dalam setiap detik kita bernafas...
.
Kita lupa....
Nikmat Allah seluas lautan gak terasa
Nikmat Allah sebesar gunung gak terlihat
Nikmat Allah yang tidak tanggung-tanggung turunnya ke dalam hidup kita pun terabaikan...
.
Kalau kita sering bertanya "Allah.. kenapa aku begini? Kenapa begitu? Kenapa? Kenapa?".... dan terus saja tanya kenapa, kenapa dan kenapa...
.
Allah pun bisa saja menjawab dengan pertanyaan kenapa...
.
Kenapa kamu tidak mencariKu?
Kenapa kamu tidak berharap padaKu?
Kenapa kamu tidak meminta dariKu?
Kenapa kamu tidak mengingat dan bahkan memujaKu?
.
Padahal... Allah pasti rindu kita
Allah rindu panggilan sayang kita dalam dzikir
Allah rindu isak tangis manja kita dalam do'a
Allah rindu rintihan harapan-harapan kita dalam bermunajat
Allah rindu kita...
.
Kita selalu mau di ingat tanpa mau mengingat kembali
Kita selalu ingin disayang tanpa mau menyayangi kembali
Dan kita selalu ingin mau diberi tanpa mau memberi kembali
.
Ingat Allah... selalu Allah...
Karena Allah selalu ingat kita
Karena Allah selalu bersama kita
.
Sudah ingat Allah?
Jangan dilepas ingatannya...
Terus ingat Allah..
Lalu tunggu kejutan indah dari Allah
Karena Allah cinta kita yang kerap mengingatNya
.
Dan kalau sudah bisa mencitai Allah dan di cintai Allah.. maka banyak hal akan terlihat positif di mata kita...
.
- Desi -
.
--------
#SarapanPagi
#PengingatDiri
#IngatAllah